A. Pengertian Psikologi Pendidikan
Pendidikan ialah segala usaha yang dilakukan dengan sadar, dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku manusia ke arah (yang baik) yang diharapkan. Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang psikologi pada umumnya. Psikologi, sebagai suatu ilmu merupakan pengetahuan ilmiah, suatu science yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah, kajian-kajian ilmiah yang dijakankan secara terencana, sistematis, terkontrol berdasarkan data empiris. Psikologi sebagai ilmu mengenai aktvitas individual digunakan secara luas, tidak hanya mencakup aktivitas motorik, tetapi juga mencakup aktivitas kognitif, dan emosional. Perilaku aatu aktivitas manusia mencakup perilaku yang menampak, maupun perilaku yang tidak menampak yang mencakup ativitas motorik, kognitif, maupun emosional.
Psikologi pendidikan adalah disiplin vital atau hal penting yang memberikan kontribusi terhadap pendidikan dalam memahami makna pembelajaran, peserta didik, proses belajar, strategi pembelajaran, dan strategi asessment pembelajaran. Menurut Glover dan Ronning (dalam Elliot, 2000) Psikologi Pendidikan adalah penerapan psikologi dan metode-metode psikologi untuk studi perkembangan, belajar, motivasi belajar, pengajaran, assessment, dan aspek-aspek psikologis lainnya yang berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh dan berinteraksi dengan proses belajar dan pembelajaran.
B. Tujuan Psikologi Pendidikan
• Memberikan orientasi mengenal lapangan studinya
• Mengemukakan masalah-masalah yang hingga kini terdapat di dalam lapangan yang ditelusuri oleh Psikologi Pendidikan yakni: Perkembangan anak, proses dan teori belajar, evaluasi, kesehatan mental dsb., dengan kata lain: masalah-masalah yang terdapat dalam situasi pendidikan, termasuk situasi pengajaran.
• Meneliti faktor manusia dalam proses pendidikan dan pengajaran, mempelajari pendidik dan anak didik dalam situasi belajar mengajar, mempelajari keadaan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam proses pendidikan dan pengajaran, perbedaan dan persamaannya dengan orang lain, kemudahan dan kesulitan yang dialaminya dalam proses itu.
C. Sejarah Ringkas dan Tokoh – Tokoh Psikologi Pendidikan
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Tokoh tersebut adalah William James, John Dewey, dan E.L. Thorndike.
William James. Dia adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, James juga terkenal sebagai seorang psikolog. Ia dilahirkan di New York pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran di Universitas Harvard, ia belajar psikologi di Jerman dan Perancis. Kemudian ia mengajar di Universitas Havard untuk bidang anatomi, fisiologi, psikologi, dan filsafat, hingga tahun 1907. Tak lama setelah meluncurkan buku ajar pikologinya yang pertama, yang pertama, principles of psychology, William James memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk “talks to Teacher”. Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan memperluas cakrawala pemikiran anak.
John Dewey. Dia adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang termasuk Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan. Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa universitas. Sepanjang kariernya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700-an artikel. Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologis di tingkat praktis. Banyak ide penting lahir dari pemikiran John Dewey. Pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak-anak sebagai pembelajar aktif. Sebelum Dewey, diyakini bahwa anak – anak harus duduk tenan dikursi mereka secara pasif belajar dengan cara menhapal. Sebaliknya, Dewey berargumen bahwa anak-anak akan belajar dengan sangat baik dengan cara menpraktikkannnya. Pemikiran yang kedua dari Dewey adalah bahwa pendidikan seharusnya di fokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya, ia percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus di ajari cara untuk berpikir dan dan beradaptasi di luar sekolah sehingga anak-anak mampu memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga, ia berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial
E.L Thorndike. Edward Lee “Ted” Thorndike (31 Agustus 1874 – 9 Agustus 1949) adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Dia adalah anggota dewan Corporation Psikologis, dan menjabat sebagai presiden American Psychological Association pada tahun 1912. Thorndike memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran serta perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah adalah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak, dan ia sangat unggul dalam melakukan studi ilmiah pengajaran dan pembelajaran. Ia juga mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya dasar ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.
C. Diversitas dan Psikologi Pendidikan Awal
Tokoh paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih, seperti yang telah di uraikan sebelumnya. Hanya ada sedikit tokoh non-kulit putih yang berhasil mendapatkan gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di bidang ini. Dua tokoh keturunan Amerika-Afrika yang menonjol di bidang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Clark. Mereka berdua melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Amerika-Afrika. Tokoh etnis minoritas lain dalam bidang ini adalah George Sanchez, psikolog keturunan Negara latin, ia melakukan riset yang mrnunjukksn bahwa tes kecerdasan secara cultural telah dibiaskan dan merugikan anak-anak etnis minoritas. Tokoh lain di bidang ini adalah Leta Hollingworth, seorang tokoh perempuan, yang sering diabaikan dalam sejarah psikologi pendidikan. Hollingworth juga adalah orang pertama yang menggunakan istilah gifted untuk mendeskripsikan anak-anak yang mendapat skor istimewa dalam tes kecerdasan.
D. Perkembangan Lebih Lanjut tentang Psikologi Pendidikan
Pendekatan Thorndike untuk studi pembelajaran digunakan sebagai panduan bagi psikologi pendidikan di awal abad ke-20. Dalam ilmu psikologi Amerika, padangan B.F Skinner, yang didasarkan pada ide-ide Thorndike, sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Skinner berpendapat bahwa proses mental yang dikemukakan oleh James dan Dewey adalah proses yang tidak dapat diamati dan karenanya tidak bisa menjadi subyek studi psikologi ilmiah yang menurutnya adalah ilmu tentang perilaku yang dapat diamati dan ilmu tentang kondisi-kondisi yang mengendalikan perilaku. Pada 1950-an, Skinner mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram), yakni setelah murid melalui serangkaian langkah ia terus di dorong (reinforced) untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Skinner menciptakan sebuah alat pengajaran yang berfungsi sebagai tutor dan mendorong murid untuk mendapatkan jawaban yang benar.
Akan tetapi, muncul keberatan terhadap pendekatan behavioral yang dianggap tidak banyak tujuan dan kebutuhan pendidikan di kelas. Sebagai reaksinya pada 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian kognitig yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing, dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dan dikembnagkan oleh guru untuk membantu murid-muridnya. Perspektif kognitif menyimpulkan bahwa analisis behavioral terhadap instruksi sering kali tidak cukup menjelaskan efek dari instruksi terhadap pembelajaran. Revolusi kognitif dalam psikologi pun mulai berlangsung pada tahun 1980-an dan disambut hangat karena pendekatan ini mangaplikasikan konsep psikologi kognitif untuk membantu murid belajar. Jadi, menjelang akhir abad ke-20 banyak ahli psikologi pendidikan kembali menekankan pada aspek kognitif dari proses belajar.
Pendekatan kognitif dan pendekatan behavioral hingga saat ini masih menjadi bagian dari psikologi pendidikan, namun selama beberapa decade terakhir abad ke-20, ahli psikologi pendidikan juga semakin memperhatikan aspek sosioemosional dari kehidupan murid. Misalnya mereka menganlisa sekolah sebagai konteks sosial dan mengkaji peran kultur dalam pendidikan.

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta